Jumat, 13 April 2012

jagalah Mahkotamu...

“Jagalah Mahkotamu”
Puisi dan Syair
11/4/2012 | 19 Jumada al-Ula 1433 H | Hits: 1.514
Oleh: Kusnadi El-Ghezwa


dakwatuna.com
Saudariku…
Kau laksana rusa kecil yang cantik
Lincah dan memiliki warna yang menarik
Kau bagaikan sekuntum bunga sakura
Yang merekah sedap dipandang mata
Saudariku…
Keindahan bola matamu yang syahdu
Mampu memberikan pancaran ke setiap kalbu
Bagaikan sinarannya batu permata mulia
Kedipanmu mampu menggetarkan jiwa
Saudariku…
Jadikan hari-harimu penuh pesona
Karena setiap detik begitu berharga
Ia takkan kembali seperti sediakala
Lewati dengan cerdas dan cita-cita mulia
Saudariku…
Tataplah masa depan dengan penuh percaya diri
Raihlah cita-citamu dan gapailah semua mimpi
Tapi, tetap menjadi diri sendiri serta ikuti kata hati
Menjadi insan terpuji dan berbudi pekerti
Saudariku…
Pesonamu adalah pesona dunia seindah jamrud khatulistiwa
Jangan biarkan dirimu bersimbah noda yang membuatmu hina
Biarkan ia memancar menerangi jagat raya dan seisinya
Menjadi penyejuk dan penyegar jiwa raga manusia
Saudariku…
Angkatlah kerudungmu, lindungi wajahmu
Sandarkan, tutupilah lubang-lubang celah rambutmu
Jangan biarkan dirimu terhina dan ternoda
Diterpa debu-debu panas penuh angkara murka
Saudariku…
Lindungi wajahmu dari sorotan tatapan nafsu
Jagalah mahkotamu dalam dekapan kasihmu
Jangan biarkan orang lain menjamahmu
Semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungimu


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19782/jagalah-mahkotamu/#ixzz1rysRjmGA

jagalah Mahkotamu...

“Jagalah Mahkotamu”
Puisi dan Syair
11/4/2012 | 19 Jumada al-Ula 1433 H | Hits: 1.514
Oleh: Kusnadi El-Ghezwa

http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2011/09/akhwat-jilbab-muslimah-250x205.jpg

Ilustrasi (kawanimut)
dakwatuna.com
Saudariku…
Kau laksana rusa kecil yang cantik
Lincah dan memiliki warna yang menarik
Kau bagaikan sekuntum bunga sakura
Yang merekah sedap dipandang mata
Saudariku…
Keindahan bola matamu yang syahdu
Mampu memberikan pancaran ke setiap kalbu
Bagaikan sinarannya batu permata mulia
Kedipanmu mampu menggetarkan jiwa
Saudariku…
Jadikan hari-harimu penuh pesona
Karena setiap detik begitu berharga
Ia takkan kembali seperti sediakala
Lewati dengan cerdas dan cita-cita mulia
Saudariku…
Tataplah masa depan dengan penuh percaya diri
Raihlah cita-citamu dan gapailah semua mimpi
Tapi, tetap menjadi diri sendiri serta ikuti kata hati
Menjadi insan terpuji dan berbudi pekerti
Saudariku…
Pesonamu adalah pesona dunia seindah jamrud khatulistiwa
Jangan biarkan dirimu bersimbah noda yang membuatmu hina
Biarkan ia memancar menerangi jagat raya dan seisinya
Menjadi penyejuk dan penyegar jiwa raga manusia
Saudariku…
Angkatlah kerudungmu, lindungi wajahmu
Sandarkan, tutupilah lubang-lubang celah rambutmu
Jangan biarkan dirimu terhina dan ternoda
Diterpa debu-debu panas penuh angkara murka
Saudariku…
Lindungi wajahmu dari sorotan tatapan nafsu
Jagalah mahkotamu dalam dekapan kasihmu
Jangan biarkan orang lain menjamahmu
Semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungimu


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19782/jagalah-mahkotamu/#ixzz1rysRjmGA

jagalah Mahkotamu...

“Jagalah Mahkotamu”
Puisi dan Syair
11/4/2012 | 19 Jumada al-Ula 1433 H | Hits: 1.514
Oleh: Kusnadi El-Ghezwa

http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2011/09/akhwat-jilbab-muslimah-250x205.jpg

Ilustrasi (kawanimut)
dakwatuna.com
Saudariku…
Kau laksana rusa kecil yang cantik
Lincah dan memiliki warna yang menarik
Kau bagaikan sekuntum bunga sakura
Yang merekah sedap dipandang mata
Saudariku…
Keindahan bola matamu yang syahdu
Mampu memberikan pancaran ke setiap kalbu
Bagaikan sinarannya batu permata mulia
Kedipanmu mampu menggetarkan jiwa
Saudariku…
Jadikan hari-harimu penuh pesona
Karena setiap detik begitu berharga
Ia takkan kembali seperti sediakala
Lewati dengan cerdas dan cita-cita mulia
Saudariku…
Tataplah masa depan dengan penuh percaya diri
Raihlah cita-citamu dan gapailah semua mimpi
Tapi, tetap menjadi diri sendiri serta ikuti kata hati
Menjadi insan terpuji dan berbudi pekerti
Saudariku…
Pesonamu adalah pesona dunia seindah jamrud khatulistiwa
Jangan biarkan dirimu bersimbah noda yang membuatmu hina
Biarkan ia memancar menerangi jagat raya dan seisinya
Menjadi penyejuk dan penyegar jiwa raga manusia
Saudariku…
Angkatlah kerudungmu, lindungi wajahmu
Sandarkan, tutupilah lubang-lubang celah rambutmu
Jangan biarkan dirimu terhina dan ternoda
Diterpa debu-debu panas penuh angkara murka
Saudariku…
Lindungi wajahmu dari sorotan tatapan nafsu
Jagalah mahkotamu dalam dekapan kasihmu
Jangan biarkan orang lain menjamahmu
Semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungimu


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19782/jagalah-mahkotamu/#ixzz1rysRjmGA

Selasa, 27 Maret 2012

Maaf, Kecantikanmu Musibah Bagiku
Puisi dan Syair
20/3/2012 | 27 Rabbi al-Thanni 1433 H | Hits: 11.081
Oleh: Herdiansyah

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19452/maaf-kecantikanmu-musibah-bagiku/#ixzz1qNasXwqD


dakwatuna.com
Ukhti, saudariku,
kau cantik, ku akui itu
karena memang kau terlahir untuk itu
walau relatif kecantikanmu
tergantung hak individu
Ku tahu kecantikanmu anugerah
dari Tuhanku dan Tuhanmu
tapi, bukankah Tuhanku dan Tuhanmu
punya aturan untuk itu
Kau harus menjaganya
dari mata lelaki jalang
yang belum halal
baginya dan bagimu
Tahukah kau itu
atau kau sama sekali tak tau
atau pura-pura tak tau
atau tak mau tau soal itu
Tuhanku dan Tuhanmu
memberi instruksi untukmu
ulurkan kain ke seluruh tubuhmu
biar kau tak diganggu
Tuhanku dan Tuhanmu
juga ada instruksi untukmu
jangan nampakkan perhiasanmu
panjangkanlah kain itu ke dadamu
Tuhanku dan Tuhanmu
menambah instruksi untukmu dan untukku
tundukkan pandanganmu
agar hati kita tak berdebu
Namun, kenapa kau
tak gubris instruksi itu
dengan kau
umbar auratmu
kau hiasi aurat itu
agar mata lelaki terayu
mengakui cantikmu
indah bentuk tubuhmu
bagaimana aku menjaga nafsu
kalau kau umbar aurat selalu
aku sama sekali tak menyalahkanmu
karena ini lemahku
di depan sang nafsu
Tapi, mungkin lebih mudahku
membendung sang nafsu
kalau kau membantu
dengan menutup auratmu
karena ku bukan malaikat
bukan juga iblis terlaknat
imanku bisa melesat mendarat
bisa juga melusut melarat
hari ini, ku menjadi tuan nafsu
namun besok, mungkin nafsu memperbudakku
ku takut lirikan itu
menambah saldo dosa- dosaku
semoga kau menyadari itu
wahai ukhti saudariku
demi kebaikanku dan kebaikanmu
demi hatiku dan hatimu yang berdebu
karena noda- noda pandangan itu

“Buat Apa Berkerudung Kalau Kelakuan Rusak” Benarkah?
Suara Pembaca
27/12/2011 | 02 Safar 1433 H | Hits: 19.340
Oleh: sandylegia


dakwatuna.com – Perempuan yang baik adalah yang bagus agamanya, yang dimaksud ‘agamanya’ adalah agama dalam hati bukan dalam penampilan. Pertanyaan, “Berarti lebih bagus perempuan tidak berkerudung tapi baik kelakuannya (beragama) daripada perempuan berkerudung yang tidak beragama (tidak baik kelakuannya)? Jawab: “Yang lebih bagus adalah perempuan yang berkerudung dan beragama sekaligus.”
Kenapa?
Realitas memperlihatkan kepada kita bahwa perempuan berkerudung lebih banyak yang beragama ketimbang perempuan yang tidak memakai kerudung.
Jika ada perempuan tak memakai kerudung tapi beragama (berakhlaq), maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan tak berkerudung yang rata-rata kurang berakhlaq.
Begitu pula jika ada perempuan berkerudung tapi tidak/kurang beragama, maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan berkerudung yang rata-rata beragama.
Kerudung adalah setengah petunjuk kalau wanita yang memakai kerudung tersebut adalah wanita beragama, setengahnya lagi adalah hati atau perilaku kesehariannya.
Bila perilaku keseharian seorang wanita muslimah sudah bagus namun belum berkerudung, segera lengkapi dengan kerudung, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna. Begitu pula jika seorang wanita muslimah sudah berkerudung, namun akhlaq atau perilaku kesehariannya masih tidak baik, segera lengkapi dengan akhlaq yang baik, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna.
Jadi, jangan ada lagi orang yang berkata “Buat apa berkerudung kalau kelakuan seperti wanita tak beragama (tidak baik), lebih baik tidak berkerudung!!”
Pernyataan itu keliru karena beberapa alasan:
Pertama: Alasan Syar’i
Pernyataan tersebut sama dengan menyeru perempuan untuk melanggar apa yang telah Allah perintahkan kepada wanita muslimah. Di dalam Al-Quran Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)
Kedua: Alasan Logis
Dikatakan sebelumnya bahwa wanita muslimah yang baik akhlaqnya namun tak berkerudung baru setengahnya menunjukkan kalau wanita tersebut beragama, karena setengahnya lagi adalah kerudung, berarti wanita yang tidak baik kelakuannya dan tidak berkerudung, tidak setengah pun menunjukkan bahwa wanita tersebut beragama. Maka, bukankah ini lebih parah nilainya di mata agama? Oleh karena itulah pernyataan di atas tidak menjadi solusi yang tepat.
Solusi yang Tepat
Bagi wanita muslimah yang sudah berkerudung dan merasa kalau akhlaq atau perilakunya masih jauh dari akhlaq seorang wanita muslimah yang sebenarnya, tidak perlu terhasut dengan pernyataan “Buat apa pakai kerudung, kalau…. dst” lantas melepas kerudungnya karena malu.
Solusi yang bijak adalah, biarkan kerudung itu tetap melekat bersamanya sembari berusaha untuk terus mengadakan perbaikan akhlaq atau perilakunya.
Pernyataan Lain
“Kerudungi hati dulu, baru kerudungi penampilan”. Jika pernyataan ini memang pernah terlontar dan pernah ada, alangkah bijak jika pernyataan ini kita ubah menjadi: “Mengerudungi hati tak kalah penting dari mengerudungi penampilan”.
Tentang pernyataan pertama, dikarenakan perbaikan akhlaq adalah proses berkesinambungan seumur hidup yang jelas bukan instan, dan dikarenakan tak ada yang dapat menjamin bagaimana dan seperti apa hari esok dalam kehidupan kita? Masih di atas bumi kah atau di dalam perutnya? Masih memijak kah atau dipijak? Maka menunda berkerudung dengan alasan memperbaiki akhlaq dulu adalah sesuatu yang tidak semestinya dilakukan oleh wanita muslimah mana pun.
Adapun pernyataan kedua, memang demikianlah adanya, bacalah Al-Quran dan tadabburi maknanya, maka kita temukan bahwa hampir setiap kali Allah berfirman tentang wanita muslimah yang baik (beragama), isinya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berperilaku?” selebihnya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berpenampilan?”. Jika berkenan bacalah QS. An-Nur ayat 31, At-Tahrim ayat 5, 10, 11 dan 12, dan seterusnya.
Pernyataan berikutnya adalah:
“Kerudung itu bukan inti dari Islam!” Ya, saya pribadi setuju, memang bukan inti dari Islam, tapi bagian penting dari Islam yang jika bagian itu tidak ada, maka terlalu sulit untuk dikatakan “Ini Islam” sama sulitnya untuk dikatakan “Ini bukan Islam”.
Dikatakan wanita muslimah sulit karena tidak pernah mau pakai kerudung, dikatakan bukan wanita muslimah juga sulit, karena shalat, zakat dan ibadah-ibadah lainnya tetap dikerjakan, juga akhlaqnya adalah akhlaq wanita muslimah.
Kalau saya ibaratkan, hal ini seperti bangunan rumah yang tak nampak seperti rumah, namun lebih tampak seperti gudang; berjendela tanpa kaca, tanpa lantai ubin, dan tanpa atap dan seterusnya.
Dikatakan rumah sulit, karena dari luar hampir tak dapat dibedakan dengan gudang. Dikatakan bukan rumah juga sulit, karena ternyata penghuninya lengkap, pasangan suami istri dan satu anak lelaki.
Jendela berkaca, pintu, atap, dan lantai ubin memang bukan bagian inti dari rumah, tapi tanpa adanya semua itu, sebuah bangunan akan kehilangan identitasnya sebagai rumah, konsekuensinya, orang-orang akan menyangka kalau bangunan tersebut adalah gudang tak berpenghuni.
Kerudung atau jilbab adalah identitas seorang muslimah (wanita beragama Islam). Kerudung lah yang memberi isyarat kepada lelaki-lelaki muslim bahkan semua lelaki bahwa yang mengenakannya adalah wanita terhormat, sehingga sangat tidak pantas direndahkan dalam pandangan mereka, kata-kata mereka, maupun perbuatan mereka (para lelaki).
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)
Kesimpulan
“Identitas seorang wanita muslimah itu adalah jilbab dan akhlaqnya, akhlaq tanpa jilbab kurang, sama kurangnya dengan jilbab tanpa akhlaq”.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17744/buat-apa-berkerudung-kalau-kelakuan-rusak-benarkah/#ixzz1qNa9M8q7

Kamis, 15 Maret 2012

Putri

Putri
Download "Putri" mp3
Artist: Jamrud
Putri, gadis belia yang baru melek
Jadi liar karena ingin keren
Dan dibilang.......Trendi

Putri, harusnya kamu ada di rumah
Isi P.R. atau les Fisika
Bukan di .....Diskotik

Sgala macam kau coba asal bau USA
Dari Red Label hingga tanpa B.H.
Tingkah laku berubah serasa hidup di L.A.
Dan kau pun bangga

Putri, sayang tubuhmu koq digratisin
Hanya untuk kejar satu kata
Biar di bilang ...sexi..

Sgala macam kau suka asal bau USA
Bercinta di DRIVE In, sambil Week End
Semua teman pria mu mirip Junkis di L.A.
Dan kau pun tertawa

Ini konyol namanya
Hampir, tak ada tujuan pasti
Jadi, apa yang kau cari
Mungkin kau wiraswasta tubuh
Atau kau nikmati sendiri

Putri, wajahmu memelas pucat pasi
Mengurung diri dalam kamarnya
Dan dibilang .....Bunting

Jumat, 10 Februari 2012

ukhti fillah, masihkah kau tidak ingin berjilbab..?

Ukhti fillah, masihkah kau tidak ingin berjilbab?
Saif Al BattarAhad, 16 Oktober 2011 13:54:13
Renungan buat Muslimah yang belum ingin menutup auratnya dengan Hijab



Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki?

Kami jawab, ”Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru yang menganggap iman itu cukup dengan amalan hati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan”

Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas?

Kami jawab, ”Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?” Coba direnungkan!

Beralasan lagi karena saat ini belum siap berjilbab?

Kami jawab, ”Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa jika sudah keriput dan rambut ubanan? Inilah was-was dari setan supaya kita menunda amalan baik. Mengapa mesti menunda berhijab? Dan kita tidak tahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzakh, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. So … jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berjilbab.”

Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan:

“Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan sholeh.

Allah Ta’ala berfirman,

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Subhanallah..

Masihkah kamu ragu wahai Ukhti fillah untuk menutup kemolekan tubuhmu dengan hijab? masihkah? Ingatlah, sesungguhnya api neraka akan membakar tubuh yang kau sajikan untuk lelaki hidung belang, kau bisa beralasan ini dan itu, Demi Allah, sesungghnya, kita tak akan mampu menebak kapan nyawa ini akan diambil oleh Malaikat Maut! Innalillahi waa inna ialaihi rojiun..

Sahabatmu dalam mengingat Allah,
Muhammad Jibriel Abdul Rahman

Senin, 06 Februari 2012

untuk putriku...part 1

Bismillah..
Semoga yang saya tuliskan ini bisa membuat putriku lebih bisa menjaga diri

Template by:

Free Blog Templates